Judul Buku: Kalau Tak Untung
Tahun Terbit: 1938
Pengarang: Selasih
Rasmani dan Masrul sejak kecil berteman akrab. Rasmani anak orang miskin, sedang Masrul anak orang berada. Tapi persahabatan mereka tidak teralang oleh perbedaan keadaan yang bersifat lahiriyah itu. Bersama-sama dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa raganya, rasa kasih antara kedua, kemudian menjadi rasa cinta, yang makin lama makin mendalam.
Masrul diangkat jadi juru tulis di Painan. Sebelum berangkat ia harus berjanji kepada orang tuanya supaya setelah dua tahun suka memulangi Aminah, calon istri pilihan ibunya, anak mamak Masrul. Perjanjian ini diterima oleh Masrul karena didesak dan ia tak dapat mengelak. Tapi sebagai balas janji Masrul meminta supaya Aminah diajari membaca dan menulis, supaya kelak kalau telah kawin tidak memalukan. Ibunya menyanggupi.
Sampai di Painan, Masrul minta langsung dengan perantaraan surat kepada Rasmani, yang kebetulan sudah diangkat pula jadi guru suka memberi pelajaran kepada Aminah.
Meskipun rasa hati berat memberi pelajaran kepada "saingan" dalam berebut cinta, tapi akhirnya Rasmani demi kemurnian cintanya terhadap Masrul, mau memenuhi keinginan kekasihnya.Atas keikhlasan Rasmani lah, Aminah kelak, mendapat kepandaian membaca dan menulis secukupnya.
Di Painan Masrul bertamu keluarga Guru kepala yang mempunyai gadis cantik dan terpelajar - pandai berbahasa Belanda dan lain-lain, calon istri dokter yang tidak jadi karena kemudian ketahuan terlalu bebas bergaul dengan anak sekolah Mulo. Rupanya dokter itu curiga. Muslina (nama gadis itu), di pakai umpan memancing Masrul dan berhasil. Meskipun Masrul berat kepada Rasmani tidak menolak tawaran gadis cantik dengan orang tua yang berada. Sebelum kawin Masrul minta pertimbangan Rasmani tentang perkawinannya, tapi meskipun Rasmani memberi bayangan mungkin tak akan berbahagia karena keadaan terlalu "berat sebelah" toh Masrul kawin juga. Kemudian ternyata setelah kawin ia benar-benar tidak berbahagia, istrinya terlalu tidak memberi kebebasan hingga bagi Masrul rumahnya itu tidak bedanya dengan neraka. Suami istri selalu bertengkar, selalu ribut, karena istrinya hanya mau menang sendiri, bersikap selalu merendahkan, karena segala keperluan rumah tangga sang mertualah yang menanggung dan ia merasa pula lebih terpelajar dari Masrul, toh dapat juga ia mendapat anak. Peristiwa-peristiwa yang tak menyenangkan ini selalu dikemukakan dalam surat-surat Masrul, kepada Rasmani, dan Rasmani kembali demi kecintaannya kepada Masrul, tidak membenarkan kalau Masrul hendak menceraikan istrinya hanya karena tidak mengecap kebahagiaan sebagai yang diharapkan semula. Sudah terlanjur kata Rasmani, akan lebih jelek di mata orang kalau ia menceraikan istri yang sudah mempunyai anak pula.
Masrul mula-mula bertahan, tapi sesekali keadaan memuncak dan rupanya tidak tertahankan lagi. Ia pulang setelah menceraikan istrinya, tapi sambil kehilangan pekerjaan, sehingga sekalipun kesempatan terbuka untuk melangsungkan niatnya memulangi Rasmani (Aminah sendiri sudah bersuami, jadi tidak ada lagi halangan yang memberatkan), tapi toh belum juga Masrul meminta Rasmani secara resmi kepada orang tuanya, dengan alasan belum dapat pekerjaan.
Rasmani sebenarnya merasa jengkel, tapi tentu tak baik kalau dari pihak dia yang mendesak, ia membiarkan diri "makan hati berulam jantung". Biarlah ia merana, asal Masrul berbahagia.
Suatu harapan tiba-tiba datang. Masrul meminta Raasmani,th Masrul menangguhkan dulu: ia akan mencari pekerjaan, yang tetap, di Medan, i tidak mai mebawa istrinya kelak serba kekurangan. Tapi serelah sampai di Medan ia tak udah dapat ekerjaan, sampai setahun ia menganggur sehingga ia tak berani pulag, hanya mengirimkan surat mengetakan antara lain: kalau ada yang datang minta Rasmani, baik diterima saja, karena ia mendapat surat dari istrinya yang lama, supaya kembali. Alasan ini sebenarnya tidak benar, yangyangbenar sampai waktu itu. Masrul sia-sia mendapatpekerjaan yang agak baik (layak) untuk memulai berumah tangga. Masrul tidak mengira bahwa surat yang maksudnya baik itu, kelak akan membawa penyesalan yang tak kunjung putus. Karena seterimanya Rasmani surat Masrul, ia lalu jatuh sakit, yang tak dapat disembuhkan lagi. Ketika akhirnya Masrul dapat pekerjaan dengan upah Rp. 100 sebulan, suatu jumlah pada waktu itu cukup memberi harapan, sudah terlambat: -waktu Rasmani membaca surat Masrul yang memberi harapan itu, sakitnya sudah mendalam, Rasmani malah merasa sangat dikejutkan oleh perubahan yang tiba-tiba sakitnya makin parah, akhirnya meninggal.
Waktu Masrul pulang untuk menjemput sang kekasih, ia hanya menjumpai kuburnya. Ada peninggalannya yang hanya menambah pilu dan "sesal yang tak berkeputusan" (nama judul bagian buku tersebut kedua dari akhir) berupa sepucuk surat berbunyi:
Kakanda Masrul yang kucinta!
Gantang penuh, bilangan cukup. Adinda tidak dapat menanti lagi. Perjalanan adinda sampai ke batas. Badanku lemah, anggota letih, adinda tak dapat meneruskan perjalanan itu. Kalau kakanda membaca surat ini, adinda telah lama tidur, tidur untuk selama-lamanya. Bukanlah adinda mendahului Tuhan, melainkan perasaan itu telah datang benar pada adinda. Kakanda maafkan kalau ada kesalahan dan relakanlah jerih payah dan sekalian pemberian kakanda serta kasih sayang kakanda yang adinda terima dari kecil adinda. Akan hidup bersama kakanda akan membela kakanda, melayani kakanda, menolong dan meringankan beban kakanda mengurut memijid kakanda ketika sakit, menyandar ketika mati itulah cita-cita dan angan-angan adinda, akan ganti terima kasih adinda. Tetapi apakah dayaku karena Allah tak hendak menyampaikan maksud itu.
Sekarang kudoakan saja mudah-mudahan gadis yang lain akan pengganti adinda.
Kakanda... Adinda tak dapat menulis lagi.
Tinggallah... Selamat
Mani
Selasa, 17 Juli 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Sinopsis Novel Sastra
Judul: Azab Dan Sengsara
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1920
Jejaka Aminudin mencintai gadis Mariamin, tapi tak sampai terlaksana karena Aminudin terpaksa menerima pilihan ayahnya, yang mencarikan gadis dari keluarga lain, karena keluarga Mariamin miskin, tidak layak diambil menantu.
Padahal orang tuan Aminudin tahu, bahwa Mariamin telah semenjak kecil jadi teman sepermainan Aminudin. Dan ia pun tahu bahwa keluarga itu asalnya keluarga berada dan bangsawan. Dilukiskan oleh penulis bahwa cinta si gadis dan si bujang adalah cinta murni, cinta yang tumbuh dari kecil, bersemi bersama-sama dengan pertumbuhan jasmaniah kedua anak tersebut hingga menjelang: si gadis jadi remaja, si bujang jadi jejaka, di samping itu memang ada pula pertalian keluarga. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Ketika Aminudin meminta dibawakan calon istri, yang dalam pikirannya dan memang dinyatakan juga harus meminang gadis Mariamin, tetapi karena alasan-alasan kecil tadi, sang ayah membawa gadis lain, pilihannya sendiri, di antarkannya langsung ke tempat anaknya bekerja, di Medan. (Tempat asla Sipirok/Tapanuli). Aminudin tak dapat menolak sekalipun ia mengakui bahwa perbuatan ini berarti penghianatan terhadap Mariamin, perawan yang menjadi idamannya semenjak kecil. Ia terpaksamenerima sodoran sang ayah, karena mengingat gengsi keluarga, padahal hatinya tetap ekat pada gadisnya. Untul membuktikan bahwa Aminudin jujur dalam hal ini, dimintanya orang tua supaya nanti apabila sudah kembaki ke kapung, sudi mengantarkan "nasi bungkus"kepada ibu Mariamin, tanda maaf atas pemungkiran janji yang telah diikrarkan. (tentang nasi bungkus ini penulis MS memberi keterangan sebagai berikut: Menurut adat orang Batak, yang meminta ampun akan kesalahannya, harus membawa nasi ke rumah orang, tempat ia meminta ampun itu, supaya langkahnya berat. nasi itu basa dibungkus dalam daun pisang, sebab itu nasi itu bernama nasi bungkus).
Orang tua Aminudin tidak menolak permintaan anaknya menyampaikan pesan itu. Sesampainya di kampung segera dilaksanakan. Dan sekaligus pada saat setelah melihat tingkah-laku anak gadis serba menarik , dan punya rupa yang jarang tersua pada gadis lain, harus mengakui kekeliruan anggapan dan pilihannya itu: memberikan gadis lain kepada anaknya yang hanya satu-satunya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ludah tak dapat dijilat lagi, tinggal sesalan yang pasti lama tak kan dapat diredakan.
Setelah tau jejakanya tak dapat diharap lagi, tidak menolak, sekalipun tidak setuju, ketika oleh sang ibu diminta supaya menerima pinangan pemuda lain, yang tidak dikenal sebelumnya. Harapan ibunya, Mariamin dapat hidup bahagia setelah bersuami, meskipun tidak dengan pemuda yang dicintainya. Bakal suaminya pun orang berada dan orang yang berpekerjaan. Tapi ternyata kemudian sang mantu ibu yang tak putus dirundung malang itu, bukan suami yang baik. Dia sudah berkali-kali beristri dan mengidap penyakit yang berbahaya. (Penulis tidak menyebut penyakit apa, tapi rupanya penyakit yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dengan wanita-wanita di perantauan). Ketika Mariamin tahu hal ini ia menolak tiap-tiap ajakan suaminya untuk berhubungan suami-istri sebagaimana lazimnya, dengan helah, supaya suaminya itu berobat dahulu. Tapi si suami tentu tak mau mengerti. Mariamin adalah istrinya yang sah, dan berhak menurut kehendaknya sebagai suami. Dalam pada dengan tidak disangka-sangka Mariamin bertemu dengan Aminudin (setelah kawin Mariamin pun dibawa oleh suaminya pindah ke Medan). Dan pertemuan ini sungguh-sungguh membuat luka hatinya kambuh. Ia jatuh pingsan pada pertemuan mula-mula. Dan setelah Aminnudin pulang tidak bertambah baik karena suami Mariamin pun mengetahui kunjungan Aminudin kepada istrinya waktu ia tidak di rumah. Tambahlah alasan bagi si suami untuk menekan sang istri, dan kini lebih bengis lagi perilakunya, sering menangani dan memukul istrinya di saat-saat mendapat kesempatan. Akhirnya Mariamin tidak kuat lagi, suatu ketika, setelah ia mendapat pukulan dari suaminya, ia pergi mengadu kepada polisi dengan putusan: ia cerai dengan suaminya, dan pulang ke kampung. Tidak jelas dipaparkan oleh penulis bagian terakhir ini, hanya dibawanya pembaca ikut dengan penulis meninjau suatu tempat yang ketinggian dengan bertutupkan tanah baru digali berwarna merah. Itulah kuburan Mariamin, gadis yang saleh dan suci itu. Tokoh utama roman Merari Siregar: Dimatikan. Demikian akhir cerita Azab dan Sengsara
Orang tua Aminudin tidak menolak permintaan anaknya menyampaikan pesan itu. Sesampainya di kampung segera dilaksanakan. Dan sekaligus pada saat setelah melihat tingkah-laku anak gadis serba menarik , dan punya rupa yang jarang tersua pada gadis lain, harus mengakui kekeliruan anggapan dan pilihannya itu: memberikan gadis lain kepada anaknya yang hanya satu-satunya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ludah tak dapat dijilat lagi, tinggal sesalan yang pasti lama tak kan dapat diredakan.
Setelah tau jejakanya tak dapat diharap lagi, tidak menolak, sekalipun tidak setuju, ketika oleh sang ibu diminta supaya menerima pinangan pemuda lain, yang tidak dikenal sebelumnya. Harapan ibunya, Mariamin dapat hidup bahagia setelah bersuami, meskipun tidak dengan pemuda yang dicintainya. Bakal suaminya pun orang berada dan orang yang berpekerjaan. Tapi ternyata kemudian sang mantu ibu yang tak putus dirundung malang itu, bukan suami yang baik. Dia sudah berkali-kali beristri dan mengidap penyakit yang berbahaya. (Penulis tidak menyebut penyakit apa, tapi rupanya penyakit yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dengan wanita-wanita di perantauan). Ketika Mariamin tahu hal ini ia menolak tiap-tiap ajakan suaminya untuk berhubungan suami-istri sebagaimana lazimnya, dengan helah, supaya suaminya itu berobat dahulu. Tapi si suami tentu tak mau mengerti. Mariamin adalah istrinya yang sah, dan berhak menurut kehendaknya sebagai suami. Dalam pada dengan tidak disangka-sangka Mariamin bertemu dengan Aminudin (setelah kawin Mariamin pun dibawa oleh suaminya pindah ke Medan). Dan pertemuan ini sungguh-sungguh membuat luka hatinya kambuh. Ia jatuh pingsan pada pertemuan mula-mula. Dan setelah Aminnudin pulang tidak bertambah baik karena suami Mariamin pun mengetahui kunjungan Aminudin kepada istrinya waktu ia tidak di rumah. Tambahlah alasan bagi si suami untuk menekan sang istri, dan kini lebih bengis lagi perilakunya, sering menangani dan memukul istrinya di saat-saat mendapat kesempatan. Akhirnya Mariamin tidak kuat lagi, suatu ketika, setelah ia mendapat pukulan dari suaminya, ia pergi mengadu kepada polisi dengan putusan: ia cerai dengan suaminya, dan pulang ke kampung. Tidak jelas dipaparkan oleh penulis bagian terakhir ini, hanya dibawanya pembaca ikut dengan penulis meninjau suatu tempat yang ketinggian dengan bertutupkan tanah baru digali berwarna merah. Itulah kuburan Mariamin, gadis yang saleh dan suci itu. Tokoh utama roman Merari Siregar: Dimatikan. Demikian akhir cerita Azab dan Sengsara
Sumber Buku: Aneka Pustaka (Rusman Sutiasumarga)
Jumat, 08 Juni 2012
Rindu
Dikala matahari terbenam
Langit mulai gelap
Saat itu lah
Aku selalu terbayang wajahmu
Walau aku tau
Kini engkau telah pergi
Namun tetap saja
Aku selalu memikirkanmu
Aku rindu senyummu
Aku rindu candamu
Aku rindu tawamu
Juga sgala tentangmu
Adakah kau ingat diriku
Adakah kau ingat masa lalu
Adakah kau ingat janji-janjimu
Yang akan slalu bersamaku
Dari aku yang dulu dihatimu
Andai aku dapat memutar waktu
Aku ingin mengulang masa itu
Saat aku masih bersamamu
Oleh: Euva I.M
Langit mulai gelap
Saat itu lah
Aku selalu terbayang wajahmu
Walau aku tau
Kini engkau telah pergi
Namun tetap saja
Aku selalu memikirkanmu
Aku rindu senyummu
Aku rindu candamu
Aku rindu tawamu
Juga sgala tentangmu
Adakah kau ingat diriku
Adakah kau ingat masa lalu
Adakah kau ingat janji-janjimu
Yang akan slalu bersamaku
Dari aku yang dulu dihatimu
Andai aku dapat memutar waktu
Aku ingin mengulang masa itu
Saat aku masih bersamamu
Oleh: Euva I.M
Dia
Dia...
Semangat hidupku
Pengukir senyumku
Pengukir tawaku
Dia...
Cerahkan hatiku
Punahkan sedihku
Bangkitkan bahagiaku
Dia...
Senyumnya begitu indah
Wajahnya mempesona
Membuatku ingin mengenalnya
Dia...
Andai aku bisa bersamanya
Setiap saat mendampinginya
Selalu berada di dekatnya
Dia...
Siapakah namanya
Di manakah tinggalnya
Ingin rasanya aku tau
Bolehkah aku mengenalnya?
Dan salahkah aku menyukainya?
Oleh:Euva I.M
Semangat hidupku
Pengukir senyumku
Pengukir tawaku
Dia...
Cerahkan hatiku
Punahkan sedihku
Bangkitkan bahagiaku
Dia...
Senyumnya begitu indah
Wajahnya mempesona
Membuatku ingin mengenalnya
Dia...
Andai aku bisa bersamanya
Setiap saat mendampinginya
Selalu berada di dekatnya
Dia...
Siapakah namanya
Di manakah tinggalnya
Ingin rasanya aku tau
Bolehkah aku mengenalnya?
Dan salahkah aku menyukainya?
Oleh:Euva I.M
HILANG...
Sering kali aku teringat
Akan dirimu yang dulu ada
Yang dulu selalu hiasi hariku
Hilangkan sepi yang kurasa
Namun kini kau menghilang
Hilang bagai ditelan bumi
Hilang entah kemana
Tiada lagi terdengar kabar darimu
Hati ini selalu bertanya
Sedang apa kau disana
Bahagiakah kau dengannya
Dan ingatkah kau padaku
Walau hanya sekejap mata
Aku tak mengerti
Untuk apa mengingatnya lagi
Aku pun tak mengerti
Mengapa rindu selalu datang
Setiap aku mengingatmu
Aku slalu meminta pada yang Kuasa
Agar kau slalu tersenyum
Agar kau slalu bahagia
Bahagia dengan dirinya yang kini jadi kekasihmu...
Oleh: Euva I.M
Akan dirimu yang dulu ada
Yang dulu selalu hiasi hariku
Hilangkan sepi yang kurasa
Namun kini kau menghilang
Hilang bagai ditelan bumi
Hilang entah kemana
Tiada lagi terdengar kabar darimu
Hati ini selalu bertanya
Sedang apa kau disana
Bahagiakah kau dengannya
Dan ingatkah kau padaku
Walau hanya sekejap mata
Aku tak mengerti
Untuk apa mengingatnya lagi
Aku pun tak mengerti
Mengapa rindu selalu datang
Setiap aku mengingatmu
Aku slalu meminta pada yang Kuasa
Agar kau slalu tersenyum
Agar kau slalu bahagia
Bahagia dengan dirinya yang kini jadi kekasihmu...
Oleh: Euva I.M
Rabu, 18 April 2012
Kisah Pengusaha Sukses
Kisah Pengusaha Sukses Pendiri Apple Steve Jobs
Cerita sukses tak selalu
bermula dari ide besar. Banyak sukses yang justru lahir dari gagasan sepele.
Ada juga yang menangguk untung besar lantaran kelihaiannya mengadopsi dan
meniru temuan orang lain. Tetapi tak sedikit juga yang meraih sukses karena
keberaniannya menanggung risiko dan kreativitasnya dalam melakukan inovasi
terhadap sesuatu yang sudah ada.
Dalam bukunya, Emily Ross &
Angus Holland mengisahkan hal ini cukup menarik. Ia juga memilah-milah kisah
sukses atas dasar sejarah dan kecenderungannya, sehingga mempermudah pembaca
untuk memahami. Sebagai contoh adalah kisah-kisah sukses yang diraih karena
kekuatan adaptasi modelnya. Ross & Holland menyebutkan Starbucks yang
berevolusi dari hanya sebuah toko penjual biji kopi, dan Coca Cola yang berjaya
setelah dikemas dalam botol.
Keberanian mengambil risiko
oleh para kreator dan inovator juga menjadi kisah tersendiri. Keberhasilan
Apple menjadi salah satu contoh besarnya. Sang penemu, Steve Wozniak, sempat
ditolak ketika mengajukannya ke Hewlett-Packard (HP). Ia kemudian
menyodorkannya kepada Steve Jobs yang kemudian menjadi mitranya. Dengan modal
uang dari hasil menjual mobil VW milik Wozniak dan kalkulator HP milik Jobs,
mereka membiayai desain pertama Apple saat Jobs berusia 21 tahun dan Wozniak
lima tahun lebih tua. Siapa sangka kalau kini Apple menjelma menjadi sebuah
usaha besar di dunia.
Sementara itu banyak juga
sukses besar yang bermula dari gagasan sepele. Liquid Paper adalah salah satu
contohnya. Produk ini bermula dari kebingungan sang penemunya, Bette Graham.
Saat itu, seorang ibu yang bekerja sebagai sekretaris ini kerap stres lantaran
pekerjaannya dalam mengetik. Bayangkan, bagaimana pusingnya dia ketika harus
membuat hasil ketikannya rapi dan bersih, sementara ketikannya kerap salah.
Suatu ketika tanpa sengaja dia
melihat seorang tukang cat tengah mengecat. Tukang cat itu ternyata tak sengaja
menodai hasil kerjanya. Untuk membersihkannya, pengecat itu kemudian menimpa
noda itu dengan cat putih.
Dari situ, Graham terpikir
untuk melakukan hal serupa. Dia mencoba menggunakan cat tempera putih berbahan
dasar air dan kuas tipis untuk menutup kesalahan ketiknya. Ternyata berhasil.
Pada tahun 1957 ketika teman-temannya mengetahui hal ini, Graham mulai
mengomersialkan, hingga mampu menjual sekitar 100 botol per bulan. Hebatnya, 15
tahun kemudian, perusahaan yang didirikan berhasil menjual sedikitnya lima juta
botol per tahun.
Yang tak kalah menarik adalah
sukses besar yang terjadi karena kecerdikannya dalam mengadopsi ide orang lain.
Contohnya Dietrich Mateschitz yang mengubah tonik menyehatkan asal Thailand, si
kerbau air merah alias Krating Daeng, menjadi manis dan berbuih yang cocok
untuk orang-orang Austria. Ia lantas mengemasnya lebih menarik dalam kaleng
ramping, dan memberinya merek Red Bull. Dengan klaim sebagai ‘minuman cerdas’
yang mampu meningkatkan kinerja seseorang, Red Bull menangguk sukses besar.
Pada tahun 2006, penjualannya mencapai 3,5 miliar dolar AS, dan kini
diperkirakan jauh melebihi angka itu.
Sukses juga bisa terjadi pada
seseorang yang memiliki kemampuan berinovasi dan melakukan eksekusi lebih baik
terhadap ide yang sudah ada. Michael Dell adalah salah satu contohnya. Ia
berhasil menembus industri yang memuja inovasi tanpa membuat inovasi dengan
tangannya sendiri. Dia mulai membangun komputer rakitan di kamar kosnya dan
menjualnya dengan harga relatif murah melalui pos. Kini, siapa tak kenal
komputer Dell?
Langkah sama terjadi pada
Sergey Brin dan Larry Page. Ia melakukan inovasi yang serupa, sehingga
Google-nya kini sukses menyaingi mesin pencari yang lebih dulu ada, seperti
Yahoo!, Alta Vista, dan Lycos.
Dalam buku ini juga diungkapkan
tentang para penemu yang kurang beruntung. Sebaliknya keuntungan justru
dinikmati orang lain. Salah satu contoh adalah Coco Chanel. Ketika parfum pada
umumnya dibuat dengan satu jenis bunga, Coco menemukan ramuan parfum yang luar
biasa: hasil perpaduan beberapa jenis bunga yang kemudian menghasilkan Chanel
No. 5. Tapi sayang, akibat kesulitan modal, Coco haus berkongsi dengan keluarga
Pierre Wertheimer, yang mempunyai infrastruktur untuk memproduksi parfum
berskala besar. Hasilnya? Keluarga Wertheimer yang justru menikmati kekayaan,
bahkan hingga cucunya yang sekarang.
Seratus jurus sukses bisa
menjadi inspirasi bagi pembaca, bahwa sukses besar bisa terjadi pada siapa saja
dan dengan cara apa saja. Yang penting adalah ketekunan dan keberanian dalam menghadapi
risiko.
Anda pasti mengenal produk Mac,
iPod, dan yang terakhir iPhone. Ketiga produk itu adalah brand yang sangat
terkenal dari perusahaan Apple Inc. Bahkan, Apple saat ini dianggap sebagai
salah satu perusahaan paling berpengaruh dalam perkembangan teknologi dunia.
Lantas, apa sebenarnya kunci sukses dari Apple dalam menciptakan inovasi
teknologi tersebut?
Adalah sosok Steve Jobs, sang
pendiri Apple lah yang memiliki visi jauh ke depan sehingga membuat Apple
menjadi perusahaan yang sangat disegani hingga kini. Namun, jika menengok kisah
Steve, kita sebenarnya bisa melihat betapa ia adalah sosok pengagum
kesederhanaan dan keindahan. Inilah dua kunci dasar – selain visinya ke depan –
yang membuat Apple berhasil mematahkan dominasi Microsoftnya Bill Gates.
Bagi Anda yang sudah akrab
dengan beberapa produk Apple, pasti segera tahu betapa produk Apple sangat
sederhana dan user friendly. Namun, meski sederhana, bentuknya sangat elegan.
Inilah yang membuat Apple selalu punya penggemar fanatik. Tentu, hal ini tak
bisa lepas dari sentuhan tangan dingin sang pendiri, Steve Jobs.
Steve Jobs lahir pada 24
Februari 1955 dari seorang ibu berkebangsaan Amerika, Joanne Carole Schieble,
dan ayah berkebangsaan Syria, Abdulfattah “John” Jandali. Namun, saat dilahirkan,
ia segera diadopsi oleh pasangan Paul dan Clara Jobs. Sejak kecil, Jobs sudah
menunjukkan ketertarikannya pada peranti elektronik. Bahkan, dia pernah
menelepon William Hewlett – presiden Hewlett Packard – untuk meminta beberapa
komponen elektronik untuk tugas sekolah. Hal itu justru membuatnya ditawari
bekerja sambilan selama libur musim panas. Di Hewlett-Packard Company inilah ia
bertemu dengan Steve Wozniak, yang jadi partnernya mendirikan Apple.
IQ-nya yang tinggi membuat
Steve ikut kelas percepatan. Tapi, ia sering diskors gara-gara tingkahnya yang
nakal – meledakkan mercon hingga melepas ular di kelas. Di usianya yang ke-17,
ia kuliah di Reed College, Portland, Oregon. Namun, ia drop out setelah satu
semester. Meski begitu, ia tetap mengikuti kelas kaligrafi di universitas
tersebut. Hal itulah yang membuatnya sangat mencintai keindahan.
Tahun 1974 ia kembali ke
California. Ia bekerja di perusahaan game Atari bersama Steve Wozniak. Suatu
ketika, Steve Jobs tertarik pada komputer desain Wozniak. Ia pun membujuk
Wozniak untuk mendirikan perusahaan komputer. Dan, sejak itulah, tepatnya 1
April 1976, di usinya yang ke-21, Steve mendirikan Apple Computer. Singkat
cerita, kisah sukses segera menjadi bagian hidupnya bersama Apple.
Namun, saat perusahaan itu berkembang,
dewan direksi Apple justru memecat Steve karena dianggap terlalu ambisius.
Sebuah pemecatan dari perusahaan yang didirikannya sendiri. Meski sempat merasa
down, karena kecintaannya pada teknologi, ia pun segera bangkit. Steve
mendirikan NeXT Computer. Tak lama, ia pun membeli perusahaan film animasi
Pixar. Dari kedua perusahaan itulah namanya kembali berkibar. Hal ini bertolak
belakang dengan apa yang terjadi pada Apple. Perusahaan itu justru di ambang
kebangkrutan.
Saat itulah, Steve kembali ke Apple,
hasil dari akuisisi Apple terhadap NeXT. Banyak orang yang meramalkan Steve tak
kan lagi mampu mengangkat Apple. Steve menanggapinya dengan dingin. “Saya yakin
bahwa satu hal yang bisa membuat saya bertahan adalah bahwa saya mencintai apa
yang saya lakukan. Kita harus mencari apa yang sebenarnya kita cintai. Dan
adalah benar bahwa pekerjaan kita adalah kekasih kita. Pekerjaan kita akan
mengisi sebagian besar hidup kita. Dan satu-satunya jalan untuk bisa mencapai
kepuasan sejati adalah melakukan apa yang kita yakini,” sebut Steve.
Kecintaan inilah yang
mengantarkan Steve kembali mengorbitkan Apple ke jajaran elit produsen alat
teknologi papan atas. iPod dan iPhone saat ini menjadi produk yang sangat laris
di pasaran. Visinya ke depan juga membuat iTunes, sukses jadi toko musik
digital paling sukses di dunia. Ia menjawab keraguan orang dengan kerja nyata
dan hasil gemilang. Bentuk indah, elegan, sederhana, namun powerful, menjadi
ciri khas produk Apple hingga saat ini.
Kecintaan kita pada apa yang
kita lakukan akan menjadi jalan kita menuju kesuksesan. Hal itulah yang
dibuktikan oleh sosok Steve Jobs. Bahkan, meski ia sempat terpuruk dan “diusir”
dari perusahaannya sendiri, kecintaannya pada teknologi membuatnya kembali.
Inilah bukti nyata bahwa jika kita mencintai pekerjaan kita dengan sepenuh
hati, hasil yang dicapai pun akan jauh lebih maksimal.
Analisis
dari kisah tersebut:
Semua
orang pasti bisa sukses asalkan ada kemauan, dan semangat untuk meraih hal
tersebut. Steve Jobs, setelah dikeluarkan dari perusahaan yang telah ia
dirikan, ia sempat merasa down, namun ia bangkit lagi karena kecintaannya
dibidang teknologi, dengan tetap semangat dan tidak putus asa untuk berkarya
lagi. Ia tetap mau berusaha karna ia
mempunyai prinsip bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kecintaan akan
menghasilkan sesuatu yang memuaskan
Jumat, 13 April 2012
Cara Cepat Mengetik 10 Jari
Zaman sekarang itu udah jamannya globalisasi, internet, chatting, browsing, blogging de el el deh, yaah semua itu kan berhubungan dengan yg namanya ngetik, khususnya ngetik di keyboard, nah kan keren tuh kalo pas lagi chattingan ngetiknya pake 10 jari, biar cepetkan, bisa juga buat gaya-gayaan hahaha, kali ini saya pengen share tentang letak jari-jari kita di keyboard biar bisa cepet ngetiknya, dengan latihan tiap hari pasti bisa deh, tapi saya masih juga ga bisa-bisa -,- hehe males sih kalo saya mah :o haha oke deh ah langsung aja kebawah kita liat dimana aja tempat-tempatnya...
Tangan
Kiri
Jari Kelingking :
Baris Pertama = ‘ dan 1
Baris Kedua = Tab dan Q
Baris Ketiga = Capslock dan A
Baris Keempat = Shift kiri dan Z
Baris Kelima = Ctrl dan Windows
Baris Pertama = ‘ dan 1
Baris Kedua = Tab dan Q
Baris Ketiga = Capslock dan A
Baris Keempat = Shift kiri dan Z
Baris Kelima = Ctrl dan Windows
Jari
Manis :
Baris Pertama = 2
Baris Kedua = W
Baris Ketiga = S
Baris Keempat = X
Baris Pertama = 2
Baris Kedua = W
Baris Ketiga = S
Baris Keempat = X
Jari
Tengah :
Baris Pertama = 3
Baris Kedua = E
Baris Ketiga = D
Baris Keempat = C
Baris Pertama = 3
Baris Kedua = E
Baris Ketiga = D
Baris Keempat = C
Jari
Telunjuk :
Baris Pertama = 4 dan 5
Baris Kedua = R dan T
Baris Ketiga = F dan G
Baris Keempat = V dan B
Baris Pertama = 4 dan 5
Baris Kedua = R dan T
Baris Ketiga = F dan G
Baris Keempat = V dan B
Ibu
Jari :
Baris Kelima = Alt kiri dan Spasi
Baris Kelima = Alt kiri dan Spasi
Tangan
kanan
Ibu Jari :
Baris Kelima = Alt kanan dan Spasi
Ibu Jari :
Baris Kelima = Alt kanan dan Spasi
Jari
Telunjuk :
Baris Pertama = 6 dan 7
Baris Kedua = Y dan U
Baris Ketiga = H dan J
Baris Keempat = N dan M
Baris Pertama = 6 dan 7
Baris Kedua = Y dan U
Baris Ketiga = H dan J
Baris Keempat = N dan M
Jari
Tengah :
Baris Pertama = 8
Baris Kedua = I
Baris Ketiga = K
Baris Keempat = ,
Baris Pertama = 8
Baris Kedua = I
Baris Ketiga = K
Baris Keempat = ,
Jari Manis
:
Baris Pertama = 9
Baris Kedua = O
Baris Ketiga = L
Baris Keempat = .
Baris Pertama = 9
Baris Kedua = O
Baris Ketiga = L
Baris Keempat = .
Jari
Kelingking :
Baris Pertama = 0, -, = dan BackSpace
Baris Kedua = P, [ dan ]
Baris Ketiga = , ;, ‘ dan Enter
Baris Keempat = / dan shift kanan.
Baris Pertama = 0, -, = dan BackSpace
Baris Kedua = P, [ dan ]
Baris Ketiga = , ;, ‘ dan Enter
Baris Keempat = / dan shift kanan.
Coba
saja mengetik asal-asalan untuk membiasakan diri dengan posisi jari tersebut.
Jika sudah terbiasa dengan posisi jari tersebut, anda dapat meningkatkan skill
anda dengan mengecek speed mengetik pada situs mengetik cepat
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)

