Judul Buku: Kalau Tak Untung
Tahun Terbit: 1938
Pengarang: Selasih
Rasmani dan Masrul sejak kecil berteman akrab. Rasmani anak orang miskin, sedang Masrul anak orang berada. Tapi persahabatan mereka tidak teralang oleh perbedaan keadaan yang bersifat lahiriyah itu. Bersama-sama dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa raganya, rasa kasih antara kedua, kemudian menjadi rasa cinta, yang makin lama makin mendalam.
Masrul diangkat jadi juru tulis di Painan. Sebelum berangkat ia harus berjanji kepada orang tuanya supaya setelah dua tahun suka memulangi Aminah, calon istri pilihan ibunya, anak mamak Masrul. Perjanjian ini diterima oleh Masrul karena didesak dan ia tak dapat mengelak. Tapi sebagai balas janji Masrul meminta supaya Aminah diajari membaca dan menulis, supaya kelak kalau telah kawin tidak memalukan. Ibunya menyanggupi.
Sampai di Painan, Masrul minta langsung dengan perantaraan surat kepada Rasmani, yang kebetulan sudah diangkat pula jadi guru suka memberi pelajaran kepada Aminah.
Meskipun rasa hati berat memberi pelajaran kepada "saingan" dalam berebut cinta, tapi akhirnya Rasmani demi kemurnian cintanya terhadap Masrul, mau memenuhi keinginan kekasihnya.Atas keikhlasan Rasmani lah, Aminah kelak, mendapat kepandaian membaca dan menulis secukupnya.
Di Painan Masrul bertamu keluarga Guru kepala yang mempunyai gadis cantik dan terpelajar - pandai berbahasa Belanda dan lain-lain, calon istri dokter yang tidak jadi karena kemudian ketahuan terlalu bebas bergaul dengan anak sekolah Mulo. Rupanya dokter itu curiga. Muslina (nama gadis itu), di pakai umpan memancing Masrul dan berhasil. Meskipun Masrul berat kepada Rasmani tidak menolak tawaran gadis cantik dengan orang tua yang berada. Sebelum kawin Masrul minta pertimbangan Rasmani tentang perkawinannya, tapi meskipun Rasmani memberi bayangan mungkin tak akan berbahagia karena keadaan terlalu "berat sebelah" toh Masrul kawin juga. Kemudian ternyata setelah kawin ia benar-benar tidak berbahagia, istrinya terlalu tidak memberi kebebasan hingga bagi Masrul rumahnya itu tidak bedanya dengan neraka. Suami istri selalu bertengkar, selalu ribut, karena istrinya hanya mau menang sendiri, bersikap selalu merendahkan, karena segala keperluan rumah tangga sang mertualah yang menanggung dan ia merasa pula lebih terpelajar dari Masrul, toh dapat juga ia mendapat anak. Peristiwa-peristiwa yang tak menyenangkan ini selalu dikemukakan dalam surat-surat Masrul, kepada Rasmani, dan Rasmani kembali demi kecintaannya kepada Masrul, tidak membenarkan kalau Masrul hendak menceraikan istrinya hanya karena tidak mengecap kebahagiaan sebagai yang diharapkan semula. Sudah terlanjur kata Rasmani, akan lebih jelek di mata orang kalau ia menceraikan istri yang sudah mempunyai anak pula.
Masrul mula-mula bertahan, tapi sesekali keadaan memuncak dan rupanya tidak tertahankan lagi. Ia pulang setelah menceraikan istrinya, tapi sambil kehilangan pekerjaan, sehingga sekalipun kesempatan terbuka untuk melangsungkan niatnya memulangi Rasmani (Aminah sendiri sudah bersuami, jadi tidak ada lagi halangan yang memberatkan), tapi toh belum juga Masrul meminta Rasmani secara resmi kepada orang tuanya, dengan alasan belum dapat pekerjaan.
Rasmani sebenarnya merasa jengkel, tapi tentu tak baik kalau dari pihak dia yang mendesak, ia membiarkan diri "makan hati berulam jantung". Biarlah ia merana, asal Masrul berbahagia.
Suatu harapan tiba-tiba datang. Masrul meminta Raasmani,th Masrul menangguhkan dulu: ia akan mencari pekerjaan, yang tetap, di Medan, i tidak mai mebawa istrinya kelak serba kekurangan. Tapi serelah sampai di Medan ia tak udah dapat ekerjaan, sampai setahun ia menganggur sehingga ia tak berani pulag, hanya mengirimkan surat mengetakan antara lain: kalau ada yang datang minta Rasmani, baik diterima saja, karena ia mendapat surat dari istrinya yang lama, supaya kembali. Alasan ini sebenarnya tidak benar, yangyangbenar sampai waktu itu. Masrul sia-sia mendapatpekerjaan yang agak baik (layak) untuk memulai berumah tangga. Masrul tidak mengira bahwa surat yang maksudnya baik itu, kelak akan membawa penyesalan yang tak kunjung putus. Karena seterimanya Rasmani surat Masrul, ia lalu jatuh sakit, yang tak dapat disembuhkan lagi. Ketika akhirnya Masrul dapat pekerjaan dengan upah Rp. 100 sebulan, suatu jumlah pada waktu itu cukup memberi harapan, sudah terlambat: -waktu Rasmani membaca surat Masrul yang memberi harapan itu, sakitnya sudah mendalam, Rasmani malah merasa sangat dikejutkan oleh perubahan yang tiba-tiba sakitnya makin parah, akhirnya meninggal.
Waktu Masrul pulang untuk menjemput sang kekasih, ia hanya menjumpai kuburnya. Ada peninggalannya yang hanya menambah pilu dan "sesal yang tak berkeputusan" (nama judul bagian buku tersebut kedua dari akhir) berupa sepucuk surat berbunyi:
Kakanda Masrul yang kucinta!
Gantang penuh, bilangan cukup. Adinda tidak dapat menanti lagi. Perjalanan adinda sampai ke batas. Badanku lemah, anggota letih, adinda tak dapat meneruskan perjalanan itu. Kalau kakanda membaca surat ini, adinda telah lama tidur, tidur untuk selama-lamanya. Bukanlah adinda mendahului Tuhan, melainkan perasaan itu telah datang benar pada adinda. Kakanda maafkan kalau ada kesalahan dan relakanlah jerih payah dan sekalian pemberian kakanda serta kasih sayang kakanda yang adinda terima dari kecil adinda. Akan hidup bersama kakanda akan membela kakanda, melayani kakanda, menolong dan meringankan beban kakanda mengurut memijid kakanda ketika sakit, menyandar ketika mati itulah cita-cita dan angan-angan adinda, akan ganti terima kasih adinda. Tetapi apakah dayaku karena Allah tak hendak menyampaikan maksud itu.
Sekarang kudoakan saja mudah-mudahan gadis yang lain akan pengganti adinda.
Kakanda... Adinda tak dapat menulis lagi.
Tinggallah... Selamat
Mani
Tampilkan postingan dengan label sinopsis novel sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinopsis novel sastra. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Juli 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Sinopsis Novel Sastra
Judul: Azab Dan Sengsara
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1920
Jejaka Aminudin mencintai gadis Mariamin, tapi tak sampai terlaksana karena Aminudin terpaksa menerima pilihan ayahnya, yang mencarikan gadis dari keluarga lain, karena keluarga Mariamin miskin, tidak layak diambil menantu.
Padahal orang tuan Aminudin tahu, bahwa Mariamin telah semenjak kecil jadi teman sepermainan Aminudin. Dan ia pun tahu bahwa keluarga itu asalnya keluarga berada dan bangsawan. Dilukiskan oleh penulis bahwa cinta si gadis dan si bujang adalah cinta murni, cinta yang tumbuh dari kecil, bersemi bersama-sama dengan pertumbuhan jasmaniah kedua anak tersebut hingga menjelang: si gadis jadi remaja, si bujang jadi jejaka, di samping itu memang ada pula pertalian keluarga. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Ketika Aminudin meminta dibawakan calon istri, yang dalam pikirannya dan memang dinyatakan juga harus meminang gadis Mariamin, tetapi karena alasan-alasan kecil tadi, sang ayah membawa gadis lain, pilihannya sendiri, di antarkannya langsung ke tempat anaknya bekerja, di Medan. (Tempat asla Sipirok/Tapanuli). Aminudin tak dapat menolak sekalipun ia mengakui bahwa perbuatan ini berarti penghianatan terhadap Mariamin, perawan yang menjadi idamannya semenjak kecil. Ia terpaksamenerima sodoran sang ayah, karena mengingat gengsi keluarga, padahal hatinya tetap ekat pada gadisnya. Untul membuktikan bahwa Aminudin jujur dalam hal ini, dimintanya orang tua supaya nanti apabila sudah kembaki ke kapung, sudi mengantarkan "nasi bungkus"kepada ibu Mariamin, tanda maaf atas pemungkiran janji yang telah diikrarkan. (tentang nasi bungkus ini penulis MS memberi keterangan sebagai berikut: Menurut adat orang Batak, yang meminta ampun akan kesalahannya, harus membawa nasi ke rumah orang, tempat ia meminta ampun itu, supaya langkahnya berat. nasi itu basa dibungkus dalam daun pisang, sebab itu nasi itu bernama nasi bungkus).
Orang tua Aminudin tidak menolak permintaan anaknya menyampaikan pesan itu. Sesampainya di kampung segera dilaksanakan. Dan sekaligus pada saat setelah melihat tingkah-laku anak gadis serba menarik , dan punya rupa yang jarang tersua pada gadis lain, harus mengakui kekeliruan anggapan dan pilihannya itu: memberikan gadis lain kepada anaknya yang hanya satu-satunya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ludah tak dapat dijilat lagi, tinggal sesalan yang pasti lama tak kan dapat diredakan.
Setelah tau jejakanya tak dapat diharap lagi, tidak menolak, sekalipun tidak setuju, ketika oleh sang ibu diminta supaya menerima pinangan pemuda lain, yang tidak dikenal sebelumnya. Harapan ibunya, Mariamin dapat hidup bahagia setelah bersuami, meskipun tidak dengan pemuda yang dicintainya. Bakal suaminya pun orang berada dan orang yang berpekerjaan. Tapi ternyata kemudian sang mantu ibu yang tak putus dirundung malang itu, bukan suami yang baik. Dia sudah berkali-kali beristri dan mengidap penyakit yang berbahaya. (Penulis tidak menyebut penyakit apa, tapi rupanya penyakit yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dengan wanita-wanita di perantauan). Ketika Mariamin tahu hal ini ia menolak tiap-tiap ajakan suaminya untuk berhubungan suami-istri sebagaimana lazimnya, dengan helah, supaya suaminya itu berobat dahulu. Tapi si suami tentu tak mau mengerti. Mariamin adalah istrinya yang sah, dan berhak menurut kehendaknya sebagai suami. Dalam pada dengan tidak disangka-sangka Mariamin bertemu dengan Aminudin (setelah kawin Mariamin pun dibawa oleh suaminya pindah ke Medan). Dan pertemuan ini sungguh-sungguh membuat luka hatinya kambuh. Ia jatuh pingsan pada pertemuan mula-mula. Dan setelah Aminnudin pulang tidak bertambah baik karena suami Mariamin pun mengetahui kunjungan Aminudin kepada istrinya waktu ia tidak di rumah. Tambahlah alasan bagi si suami untuk menekan sang istri, dan kini lebih bengis lagi perilakunya, sering menangani dan memukul istrinya di saat-saat mendapat kesempatan. Akhirnya Mariamin tidak kuat lagi, suatu ketika, setelah ia mendapat pukulan dari suaminya, ia pergi mengadu kepada polisi dengan putusan: ia cerai dengan suaminya, dan pulang ke kampung. Tidak jelas dipaparkan oleh penulis bagian terakhir ini, hanya dibawanya pembaca ikut dengan penulis meninjau suatu tempat yang ketinggian dengan bertutupkan tanah baru digali berwarna merah. Itulah kuburan Mariamin, gadis yang saleh dan suci itu. Tokoh utama roman Merari Siregar: Dimatikan. Demikian akhir cerita Azab dan Sengsara
Orang tua Aminudin tidak menolak permintaan anaknya menyampaikan pesan itu. Sesampainya di kampung segera dilaksanakan. Dan sekaligus pada saat setelah melihat tingkah-laku anak gadis serba menarik , dan punya rupa yang jarang tersua pada gadis lain, harus mengakui kekeliruan anggapan dan pilihannya itu: memberikan gadis lain kepada anaknya yang hanya satu-satunya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ludah tak dapat dijilat lagi, tinggal sesalan yang pasti lama tak kan dapat diredakan.
Setelah tau jejakanya tak dapat diharap lagi, tidak menolak, sekalipun tidak setuju, ketika oleh sang ibu diminta supaya menerima pinangan pemuda lain, yang tidak dikenal sebelumnya. Harapan ibunya, Mariamin dapat hidup bahagia setelah bersuami, meskipun tidak dengan pemuda yang dicintainya. Bakal suaminya pun orang berada dan orang yang berpekerjaan. Tapi ternyata kemudian sang mantu ibu yang tak putus dirundung malang itu, bukan suami yang baik. Dia sudah berkali-kali beristri dan mengidap penyakit yang berbahaya. (Penulis tidak menyebut penyakit apa, tapi rupanya penyakit yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dengan wanita-wanita di perantauan). Ketika Mariamin tahu hal ini ia menolak tiap-tiap ajakan suaminya untuk berhubungan suami-istri sebagaimana lazimnya, dengan helah, supaya suaminya itu berobat dahulu. Tapi si suami tentu tak mau mengerti. Mariamin adalah istrinya yang sah, dan berhak menurut kehendaknya sebagai suami. Dalam pada dengan tidak disangka-sangka Mariamin bertemu dengan Aminudin (setelah kawin Mariamin pun dibawa oleh suaminya pindah ke Medan). Dan pertemuan ini sungguh-sungguh membuat luka hatinya kambuh. Ia jatuh pingsan pada pertemuan mula-mula. Dan setelah Aminnudin pulang tidak bertambah baik karena suami Mariamin pun mengetahui kunjungan Aminudin kepada istrinya waktu ia tidak di rumah. Tambahlah alasan bagi si suami untuk menekan sang istri, dan kini lebih bengis lagi perilakunya, sering menangani dan memukul istrinya di saat-saat mendapat kesempatan. Akhirnya Mariamin tidak kuat lagi, suatu ketika, setelah ia mendapat pukulan dari suaminya, ia pergi mengadu kepada polisi dengan putusan: ia cerai dengan suaminya, dan pulang ke kampung. Tidak jelas dipaparkan oleh penulis bagian terakhir ini, hanya dibawanya pembaca ikut dengan penulis meninjau suatu tempat yang ketinggian dengan bertutupkan tanah baru digali berwarna merah. Itulah kuburan Mariamin, gadis yang saleh dan suci itu. Tokoh utama roman Merari Siregar: Dimatikan. Demikian akhir cerita Azab dan Sengsara
Sumber Buku: Aneka Pustaka (Rusman Sutiasumarga)
Langganan:
Postingan (Atom)